Nanga Bulik – Pemerintah kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat sektor riil dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional melalui dukungan pendanaan bagi perbankan. Sebanyak Rp200 triliun digelontorkan ke industri perbankan untuk memperluas akses pembiayaan, terutama bagi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.
UMKM Jadi Fokus Utama
Menteri Keuangan menyatakan, penempatan dana pemerintah di perbankan bertujuan untuk memastikan likuiditas tetap terjaga sekaligus memperbesar kapasitas bank dalam menyalurkan kredit. Fokus utamanya adalah sektor UMKM yang selama ini terbukti menyerap tenaga kerja besar dan tetap tangguh di tengah berbagai tekanan ekonomi.
“UMKM harus terus didorong karena kontribusinya signifikan terhadap PDB nasional. Dukungan pembiayaan ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lebih berkualitas,” ujar Menkeu.
BRI Siap Jadi Penyalur Utama
Sebagai bank dengan portofolio UMKM terbesar di Indonesia, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menyatakan kesiapannya untuk menjadi penyalur utama program ini. Direktur Utama BRI menegaskan bahwa dana yang diguyurkan pemerintah akan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk memperkuat pembiayaan sektor produktif.
“BRI memiliki infrastruktur, jaringan, dan ekosistem yang kuat di seluruh Indonesia, terutama di segmen mikro dan ultra mikro. Kami siap menyalurkan dana pemerintah ini agar manfaatnya langsung dirasakan pelaku UMKM,” jelasnya.
BRI sendiri telah menyiapkan berbagai skema pembiayaan, mulai dari Kredit Usaha Rakyat (KUR), kredit mikro, hingga program pembiayaan ultra mikro (UMi).

Baca juga: Idrus Marham Yakin Reshuffle Kabinet sebagai Respons terhadap Aspirasi Rakyat
Menopang Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Penempatan dana Rp200 triliun ini diharapkan tidak hanya menjaga stabilitas perbankan, tetapi juga memperkuat daya beli masyarakat melalui pembiayaan sektor produktif. Dengan meningkatnya akses pembiayaan bagi UMKM, diharapkan tercipta efek berganda (multiplier effect) yang mampu menggerakkan perekonomian daerah hingga pusat.
Ekonom menilai langkah pemerintah sudah tepat. “Likuiditas perbankan yang kuat akan mendorong penyaluran kredit, terutama bagi UMKM. Jika terserap dengan baik, pertumbuhan ekonomi 2025 bisa lebih optimistis berada di kisaran 6 persen,” ungkap seorang analis perbankan.
Harapan Pelaku UMKM
Pelaku UMKM pun menyambut baik langkah pemerintah dan kesiapan BRI. Mereka berharap akses permodalan menjadi lebih mudah, bunga kredit lebih kompetitif, serta proses penyaluran lebih cepat.
“Modal sering jadi kendala utama kami untuk berkembang. Jika benar program ini bisa menjangkau pelaku usaha kecil sampai ke desa, tentu akan sangat membantu,” kata Rina, pelaku usaha kuliner di Depok.
Komitmen Jangka Panjang
Pemerintah menegaskan bahwa program ini bukan hanya stimulus jangka pendek, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat pondasi ekonomi nasional melalui pemberdayaan UMKM.
Dengan dukungan perbankan, terutama BRI yang fokus pada sektor mikro, diharapkan UMKM tidak hanya bertahan, tetapi juga naik kelas hingga mampu bersaing di pasar global.















