Inews Nanga Bulik – Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim, menegaskan komitmennya terhadap nilai-nilai integritas dan antikorupsi. Hal tersebut ia sampaikan melalui pernyataan bahwa dirinya dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga pejuang antikorupsi, yang sejak awal menanamkan prinsip kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian melawan praktik koruptif.
Pernyataan Nadiem ini menjadi sorotan publik di tengah perhatian terhadap transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintahan, khususnya di sektor pendidikan.
Nilai Antikorupsi Ditumbuhkan Sejak Kecil
Nadiem menyampaikan bahwa nilai antikorupsi bukanlah sesuatu yang baru baginya. Sejak kecil, ia telah dibiasakan untuk menjunjung tinggi kejujuran dan menolak segala bentuk penyimpangan, baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional.
Menurutnya, lingkungan keluarga memiliki peran besar dalam membentuk karakter seseorang, termasuk keberanian untuk bersikap tegas terhadap praktik yang merugikan kepentingan publik.
Prinsip Integritas dalam Kepemimpinan
Selama menjabat sebagai menteri, Nadiem menegaskan bahwa prinsip integritas selalu menjadi landasan dalam setiap kebijakan yang diambil. Ia menyadari bahwa jabatan publik membawa tanggung jawab besar, terutama dalam mengelola anggaran negara dan menentukan arah kebijakan yang berdampak luas bagi masyarakat.
Ia menekankan bahwa upaya pemberantasan korupsi tidak hanya dilakukan melalui penindakan, tetapi juga melalui pencegahan dan pembenahan sistem.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Terdakwa-eks-Mendikbudristek-Nadiem-Makarim-320939.jpg)
Baca juga: Kunjungi Kantor BPJS Cabang Barito Timur, Ini yang Dibahas DPRD Barito Timur
Reformasi Pendidikan dan Tata Kelola Bersih
Nadiem menilai sektor pendidikan harus menjadi contoh dalam penerapan tata kelola yang bersih dan transparan. Oleh karena itu, berbagai kebijakan reformasi yang dijalankan selama masa kepemimpinannya diarahkan untuk meminimalkan celah penyimpangan, memperkuat akuntabilitas, serta mendorong partisipasi publik dalam pengawasan.
Ia meyakini bahwa pendidikan yang bersih dari korupsi akan melahirkan generasi yang berintegritas dan berdaya saing.
Antikorupsi sebagai Budaya, Bukan Sekadar Aturan
Lebih jauh, Nadiem menegaskan bahwa antikorupsi harus menjadi budaya, bukan sekadar slogan atau aturan formal. Menurutnya, perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat menjadi kunci utama dalam menciptakan pemerintahan yang bersih.
Ia mendorong agar nilai-nilai antikorupsi terus ditanamkan sejak dini, baik melalui pendidikan formal maupun keteladanan dari para pemimpin.
Respons Publik dan Perhatian Nasional
Pernyataan Nadiem tentang latar belakang keluarganya sebagai pejuang antikorupsi mendapat beragam respons dari publik. Banyak pihak menilai pernyataan tersebut sebagai penegasan sikap moral dan komitmen pribadi dalam menghadapi berbagai tantangan di dunia birokrasi dan politik.
Di sisi lain, publik juga berharap komitmen antikorupsi tersebut terus diwujudkan dalam tindakan nyata dan konsisten.
Harapan Perkuat Integritas Bangsa
Nadiem berharap nilai-nilai yang ia pegang teguh dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda dan para pemimpin masa depan. Ia menekankan bahwa perjuangan melawan korupsi adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas aparat penegak hukum.
“Integritas adalah fondasi utama untuk membangun bangsa yang adil dan maju,” tegasnya.
Dengan penegasan tersebut, Nadiem kembali mengingatkan pentingnya peran keluarga, pendidikan, dan kepemimpinan dalam membentuk karakter bangsa yang bersih dari korupsi.















