Inews Nanga Bulik – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan bahwa proses pembersihan puing-puing bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, pasca musibah ambruknya musala, harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Pasalnya, kondisi bangunan yang masih berdiri dinilai berisiko mengalami reruntuhan susulan apabila tidak ditangani dengan standar keselamatan yang ketat.
Potensi Bahaya Masih Tinggi
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, dalam keterangan resminya, menyebutkan bahwa tim gabungan TNI, Polri, Basarnas, BPBD, dan relawan masih melanjutkan operasi pencarian korban yang belum ditemukan. Namun, setiap langkah pembersihan puing tetap diawasi ketat karena dikhawatirkan memicu runtuhnya struktur lain di sekitar lokasi.
“Kondisi bangunan di sekitar titik utama musala yang roboh sebagian sudah retak dan melemah. Risiko reruntuhan susulan tetap ada, sehingga tim harus bekerja secara bergantian dengan alat berat maupun manual,” ungkapnya.
Evakuasi Korban Prioritas Utama
BNPB menegaskan, prioritas utama tetap pada evakuasi korban yang diperkirakan masih tertimbun di bawah reruntuhan. Hingga Jumat (12/9/2025), tercatat 14 korban meninggal dunia telah ditemukan, sementara 49 lainnya masih dalam pencarian.
“Keselamatan tim penyelamat tetap nomor satu, tetapi kami juga mempercepat evakuasi agar korban yang belum ditemukan bisa segera dievakuasi,” tambahnya.

Baca juga: Update Korban Ambruknya Musala Ponpes Al Khoziny: 14 Meninggal Dunia, 49 Belum Ditemukan
Tantangan di Lapangan
Sejumlah tantangan dihadapi tim penyelamat, mulai dari minimnya ruang gerak di antara puing-puing bangunan, kondisi cuaca yang tidak menentu, hingga keterbatasan akses menuju titik reruntuhan terdalam. Selain itu, getaran dari alat berat juga dikhawatirkan memicu longsoran puing.
Karena itu, tim SAR menggunakan metode kombinasi: sebagian mengandalkan peralatan berat, sebagian lainnya menggali secara manual untuk meminimalkan risiko tambahan.
Dukungan Logistik dan Psikososial
BNPB bersama pemerintah daerah juga menyalurkan bantuan logistik untuk mendukung kebutuhan tim penyelamat dan keluarga korban. Selain itu, layanan dukungan psikososial telah disiapkan, terutama bagi santri dan keluarga besar pondok pesantren yang terdampak secara langsung.
“Kami mendatangkan tim psikolog untuk membantu para santri yang mengalami trauma. Penanganan bencana bukan hanya soal fisik, tetapi juga mental dan sosial,” jelas pihak BNPB.
Pemerintah Imbau Masyarakat Waspada
Masyarakat sekitar lokasi diminta tidak mendekat ke area reruntuhan, demi menghindari risiko kecelakaan. BNPB juga mengingatkan bahwa proses pembersihan bisa berlangsung cukup lama mengingat kompleksitas kondisi lapangan.
“Pembersihan puing tidak bisa dilakukan terburu-buru. Kami imbau masyarakat agar mempercayakan sepenuhnya kepada tim gabungan,” pungkas BNPB.















