Inews Nanga Bulik – Proses pencarian korban ambruknya musala di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, terus dilakukan oleh tim gabungan. Hingga Sabtu (13/9/2025) malam, data resmi mencatat 14 orang meninggal dunia dan 49 orang masih dinyatakan hilang.
Kronologi Kejadian
Peristiwa nahas ini terjadi pada Jumat (12/9/2025) sore ketika ratusan santri tengah mengikuti kegiatan ibadah dan kajian. Mendadak, atap musala berukuran sekitar 20 x 30 meter itu ambruk dan menimpa para santri yang berada di dalam. Suasana pun langsung panik, sementara sebagian santri berusaha menyelamatkan diri.
Warga sekitar bersama pengurus ponpes langsung melakukan evakuasi awal sebelum tim SAR dan aparat gabungan datang ke lokasi.
Proses Evakuasi Terkendala
Kepala Basarnas Surabaya, Hariyanto, mengatakan proses pencarian korban menghadapi kendala akibat reruntuhan bangunan yang cukup berat. “Material beton menutup sebagian besar ruang musala. Kami harus menggunakan alat berat untuk mengangkat puing-puing agar korban bisa segera ditemukan,” ujarnya.
Selain itu, kondisi cuaca yang sempat diguyur hujan deras juga memperlambat proses evakuasi. Tim SAR gabungan yang terdiri atas TNI, Polri, BPBD, dan relawan tetap melakukan pencarian hingga larut malam dengan peralatan penerangan tambahan.
Baca juga: Makam Arya Daru Rusak, Polda Metro: Kondisi Ambles Murni Faktor Alam
Data Korban Terus Bertambah
Kapolres Sidoarjo, Kombes Adi Prasetyo, menyebutkan bahwa jumlah korban diperkirakan masih bisa bertambah. Dari 14 korban meninggal dunia, sebagian besar adalah santri remaja berusia 13–17 tahun.
“Untuk yang masih hilang, data kami menyebutkan ada 49 orang yang belum ditemukan. Jumlah ini berdasarkan laporan keluarga santri dan pihak ponpes,” katanya.
Sementara itu, puluhan korban luka berat maupun ringan telah dilarikan ke RSUD Sidoarjo dan beberapa rumah sakit terdekat.
Dukungan Pemerintah dan Relawan
Bupati Sidoarjo, Ahmad Muhdlor Ali, yang datang meninjau lokasi berjanji memberikan bantuan penuh bagi keluarga korban. “Kami sudah menyiapkan posko kesehatan, dapur umum, serta trauma healing bagi santri yang selamat. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo akan menanggung seluruh biaya perawatan korban luka,” tegasnya.
Sejumlah organisasi kemanusiaan juga turut membantu, termasuk PMI Jawa Timur yang menurunkan ambulans dan tenaga medis.
Fokus Pencarian Korban Hilang
Hari ini, pencarian akan difokuskan pada bagian tengah musala yang diduga masih ada banyak korban terjebak. Tim SAR menargetkan seluruh korban bisa ditemukan dalam waktu secepat mungkin.
“Prioritas kami saat ini adalah menemukan 49 korban yang masih hilang. Kami akan bekerja 24 jam dengan sistem bergantian,” tambah Hariyanto.
Investigasi Penyebab Runtuhnya Musala
Selain evakuasi, tim gabungan juga mulai melakukan investigasi penyebab ambruknya bangunan. Dugaan sementara, kualitas bangunan musala tidak sesuai standar konstruksi. Namun, hal ini masih menunggu hasil penyelidikan resmi dari tim ahli konstruksi dan kepolisian.
Polisi sudah memasang garis polisi di sekitar lokasi untuk mengamankan barang bukti serta mencegah kerumunan warga yang dapat mengganggu evakuasi.
Doa dan Harapan
Ratusan warga serta keluarga santri masih berkumpul di sekitar lokasi musala, berharap kabar baik dari anggota keluarganya yang belum ditemukan. Suasana haru menyelimuti, terutama saat jenazah korban berhasil dievakuasi satu per satu.
“Semoga korban yang belum ditemukan segera bisa dievakuasi. Kami mohon doa dari seluruh masyarakat,” ungkap salah satu pengasuh Ponpes Al Khoziny dengan suara bergetar.















