Inews Nanga Bulik – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo kembali melakukan rotasi besar-besaran di tubuh Polri. Dalam mutasi perwira tinggi yang ditandatangani pada September 2025, tercatat empat jenderal digeser untuk menempati jabatan strategis di Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri. Menariknya, dua di antaranya merupakan Kapolda aktif.
Mutasi sebagai Penyegaran Organisasi
Mutasi perwira tinggi merupakan hal rutin di institusi Polri. Selain untuk mengisi kekosongan jabatan, mutasi juga menjadi sarana penyegaran organisasi serta upaya meningkatkan kinerja. Dalam surat telegram mutasi tersebut, beberapa posisi penting di Bareskrim kini akan diisi oleh jenderal-jenderal dengan rekam jejak panjang di bidang reserse.
“Mutasi ini bagian dari dinamika organisasi Polri untuk menjawab tantangan penegakan hukum yang semakin kompleks,” ujar Kadiv Humas Polri, Irjen Trunoyudo Wisnu Andiko.
Nama-Nama Jenderal yang Dimutasi
Berdasarkan informasi, empat jenderal yang digeser ke Bareskrim antara lain:
-
Irjen Pol A, yang sebelumnya menjabat Kapolda Jawa Tengah, kini dipercaya menempati posisi penting di jajaran Bareskrim.
-
Irjen Pol B, Kapolda Sulawesi Selatan, juga mendapat tugas baru di Bareskrim dengan fokus pengawasan tindak pidana tertentu.
-
Brigjen Pol C, sebelumnya menjabat Direktur Reserse Kriminal Khusus di Mabes Polri, kini dipromosikan sebagai salah satu kepala biro di Bareskrim.
-
Brigjen Pol D, yang sebelumnya bertugas di fungsi intelijen, kini diberi amanah menguatkan sinergi penyidikan lintas sektor di Bareskrim.
Rotasi ini dianggap strategis mengingat Bareskrim merupakan motor utama Polri dalam menangani berbagai kasus besar, mulai dari korupsi, narkotika, hingga kejahatan siber.

Baca juga: Barsel Sukses Menjadi Tuan Rumah Penyelenggaraan Gubernur Cup Zona Timur 2025
Dampak bagi Kepemimpinan di Polda
Pergantian dua Kapolda yang ditarik ke Bareskrim otomatis memunculkan wajah baru di kepolisian daerah. Hal ini menjadi perhatian masyarakat, mengingat setiap Kapolda memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda dalam menjaga stabilitas keamanan dan penegakan hukum di wilayahnya.
Pengamat kepolisian, Bambang Rukmono, menilai mutasi Kapolda ke Bareskrim menandakan adanya kebutuhan akan sosok berpengalaman dalam menangani perkara skala nasional. “Kapolda biasanya sudah terbiasa dengan dinamika lapangan, sehingga ketika masuk ke Bareskrim, mereka membawa perspektif baru yang lebih operasional,” jelasnya.
Tantangan Bareskrim ke Depan
Dengan masuknya empat jenderal baru, Bareskrim diharapkan semakin solid menghadapi berbagai tantangan kejahatan di era digital dan globalisasi. Kasus-kasus besar seperti tindak pidana korupsi, human trafficking, peredaran narkoba, serta penipuan berbasis teknologi menjadi fokus utama.
“Bareskrim harus adaptif dengan perkembangan modus kejahatan. Penambahan personel berpengalaman akan sangat membantu mempercepat proses penyidikan,” kata Irjen Trunoyudo.
Harapan Publik terhadap Reformasi Polri
Mutasi ini juga tidak lepas dari sorotan publik yang berharap reformasi Polri semakin nyata. Dengan menempatkan figur-figur yang dianggap berintegritas, masyarakat berharap penanganan kasus hukum berjalan lebih transparan dan akuntabel.
“Reformasi Polri salah satunya bisa dilihat dari kinerja Bareskrim. Jika mampu menuntaskan kasus besar tanpa pandang bulu, maka kepercayaan publik akan meningkat,” ujar seorang aktivis hukum dari Jakarta.















